Sabtu, 24 September 2016

SEJARAH KERIS JAWA


Sejarah keris Nusantara,adalah hal yang jarang diketahui masyarakat umum, meskipun senjata orang jawa ini sudah sangat terkenal bahkan sampai ke manca negara.

Pada Umumnya Masyarakat kebanyakan hanya tahu bentuknya saja, tapi tidak tahu bagaimana sejarah nya dulu, padahal mengetahuinya penting karena ini merupakan peninggalan berharga yang harus dipertahankan sebagai salah satu ciri khas bangsa Indonesia khususnya masyarakat Jawa.

Kita tahu Keris merupakan salah satu ciri khas penduduk jawa, sebagai penerus generasi harusnya kita juga tahu bagaimana perjalanan kronologis senjata khas ini, agar kita tak kehilangan jati diri sebagai penduduk jawa.

Di sini akan dibahas dari awal bagaimana asal usul keris di Jawa, ada beberapa teori serta disebutkan beberapa fakta terkait dengan hal ini.

Sejarah Keris di Jawa


Keris adalah senjata tikam khas jawa, biasanya terbuat dari besi dan pembuatnya dinamakan "empu".

Pada masa abad ke-10 (bahkan sebelum itu) bangunan candi di Indonesia telah membuktikan bahwa pada masa itu telah banyak digunakan peralatan besi bahkan sudah ada yang bisa menciptakan sebuah karya seni berupa pahat yang bernilai tinggi. Karena dengan peralatan besi lah mereka baru bisa membuat pahatan yang bagus.

Dengan kata lain, pembuatan atau penemuan senjata ini sejak abad ke-10 atau sebelum masa itu. Sedangkan relief tertua yang terdapat gambar pahatan besi di dalamnya ditemukan di daerah Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Para ahli memperkirakan relief tersebut dibuat sekitar 500 Masehi.




Di sana terdapat beberapa gambar, salah satunya adalah pisau dengan bentuk mirip keris buatan Nyi Sombro, salah seorang empu dari zaman Pajajaran, dia merupakan salah satu empu wanita pada zaman itu. Sedangkan huruf pada relief menggunakan huruf pallawa dan menggunakan bahasa sansekerta.

Berikut Teori Para Ahli mengenai penemuan Keris di Indonesia

Ada beberapa ahli kebudayaan yang membahas serta meneliti kebudayaan di Indonesia, salah satunya mereka juga meneliti bagaimana senjata khas jawa ini ditemukan.

Gerald Brosseau Gardner

G.B Gardner


Pada tahun 1936 ia mengungkapkan bahwa senjata ini merupakan perkembangan dari senjata tikam zaman pra sejarah, karena bentuknya amat mirip dengan senjata pada saat itu. Dia mengatakan mirip dengan ekor ikan pari yang dihilangkan pangkalnya kemudian dibalut menggunakan sebuah kain agar bisa di pegang serta dibawa bepergian ke mana saja. Jadilah sebuah senjata tajam yang berbahaya.

Griffith Wilkens

Salah seorang ahli ini memaparkan pendapatnya yang agak mengejutkan, di atas sudah dibahas bahwa telah ditemukan relief kuno yang di dalamnya terdapat gambar pisau mirip dengan keris, namun Griffith Wilkens mengatakan bahwa keris baru muncul pada abad ke-14 dan 15. Pemaparannya itu disampaikan pada tahun 1937 yaitu setelah G.B Gardner namun sepertinya masih lebih logis pemaparan Gardner.

Ia manambahkan bahwa senjata ini merupakan perkembangan tombak pada kala itu, karena tombak banyak digunakan bangsa sekitar kepulauan Asia serta Australia. Dari tombak lah kemudian akan muncul senjata tikam bernama keris. Alasan lain karena tombak memiliki bentuk runcing memanjang serta sulit di bawa kemana saja dan lebih mencolok, maka di buat pengganti dengan bentuk lebih kecil dengan cara menghilangkan pegangan panjang pada tombak.

A.J Barnet Kempers

Tahun 1954 mengungkapkan keris adalah senjata hasil perkembangan dari senjata tusuk di zaman perunggu. Perkembangan bentuk dasar bisa dibandingkan dengan senjata yang ada di daerah Eropa.


Beberapa ahli kurang yakin jika senjata tikam ini dibuat sebelum abad ke-14 ayau 15. Mereka mengatakan hal ini dengan dasar bahwa gambar relief yang ditemukan masih belum jelas bentuknya.

Namun anggapan itu dipatahkan karena ditemukan sebuah patung dewa siwa yang memegang keris panjang di tangan kanannya. Tapi jelas patung ini bukan patung dewa siwa yang ada di India karena disana tidak pernah ditemukan siwa memagang senjata sepeti ini. Patung tersebut kini di simpan disebuah museum di Belanda.

Lalu semakin banyak ditemukan candi yang dibangun di Jawa Timur pada abad berikutnya yang memiliki gambaran keris salah satunya adalah Candi Jago, menurut peneliti, candi ini dibangun sekitar tahun 1268 Masehi. Disitu terukir sebuah gambar berbentuk tokoh wayang Pandawa sedang bernain dadu sedangkan dibelakangnya ada punokawan yang diagmabrkan tengah membawa keris. Selain itu ada juga candi yang terdapat di Tegalwangi, Pare, dekat kediri misalnya. Candi itu dinamai Panataran, disana ada relief tokoh-tokoh yang sedang memegang keris.

Cerita yang Lebih Jelas

Cerita yang lebih jelas terdapat di laporan musafir Cina bernama Ma Huan. Pada tahun 1416 dalam laporannya Yingyai Sheng-lan menyebutkan pengalamannya sewaktu berkunjung di kerajaan Majapahit.

laporan Yingyai Sheng-lan


Pada waktu itu dirinya datang bersama Laksamana Cheng-ho atas perintah Kaisar Yen Tsung dari dinasti Ming. Di Majapahit, Ma Huan melihat hampir semua lelaki disana memakai "pulak" sejak masih kanak-kanak, bahkan ada juga anak yang masih berumur 3 tahun sudah dipakaikan pulak. Pulak disini adalah sebuah belati lurus atau juga berkelok-kelok. Denga kata lain itu merupakan keris. Untuk lebih jelasnya mengenai laporan itu bisa dilihat disini

Ma Huan


Jelas pada laporan tersebut membuktikan bahwa keris sudah ada sejak sebelum tahun 1416. Serta sudah dikenal pula teknik pembuatan senjata tikam yang di buat dengan bahan baja berkualitas prima. Pegangannya dibuat dari emas, cula badak ataupun gading.

Kesimpulannya adalah keris sudah dikenal bahkan sudah berkembang pesat sebelum tahun 1416. dengan adanya lapoarn tersebut bisa kita perkirakan sendiri bahwa seajak abad ke-12 sudah ditemukan senjata ini namun tentunya dengan bentuk yang masih sederhana.


Keris Jawa


Teori para ahli tidak selalu benar

Teori-teori yang disampaikan para ahli di atas sebenarnya masih memiliki banyak kelemahan bahkan ada yang tidak logis. Ada satu pokok pikiran yang tidak tersentuh pikiran para ahli tersebut ialah keris dibuat oleh empu bukan digunakan atau bukan bertujuan sebagai alat pembunuh. Banyak buku yang di buat oleh orang barat menyebutkan keris merupakan senjata tikam. Disana menyebutkan bahwa keris terkesan digunakan sebagai senjata pembunuh.

Ada perbedaan mendasar dari beberapa senjata seperti belati, asngkur dll. senjata tersebut memang digunakan untuk membunuh lawan. Namun sangat berbeda dengan keris, senjata ini memang dibuat untuk melukai, menusuk, dan membunuhnya tapi sebenarnya pembuatannya di fungsikan sebagai pusaka, yang dapat dipercaya melindungi dan memberi keselamatan pada pemiliknya

Selasa, 06 September 2016

UNANG UNING UNONG

SIRI DELAPAN BELAS :
1). Adab orang SYAREAT =
Orang-orang yang berdiri dengan tanda-tanda kenyataan
2). Adab orang TAREKAT =
Orang-orang yang berzikir tanpa tanda, hanya karunia Allah
3). Adab orang HAKEKAT =
Orang-orang yang haknya dan hak Allah
4). Adab orang MAKRIFAT =
Orang-orang yang mengetahui perkataan dan maqam

SIRI SEMBILAN BELAS :
1). Sembahyang orang SYAREAT =
Tubuhnya yang menyembah Allah
2). Sembahyang orang TAREKAT =
Hatinya yang menyembah Allah
3). Sembahyang orang HAKEKAT =
Nyawanya yang menyembah Allah
4). Sembahyang orang MAKRIFAT =
Wahadatul wujud yang menerima sembahnya, inilah sembahyang para Nabi, Wali Allah, Ahli sufi dan orang Kamil dan Mukamil

SIRI DUA PULUH :
1). Pintu SYAREAT = Mata
2). Pintu TAREKAT = Dua lubang hidungnya
3). Pintu HAKEKAT = Dua biji mata
4). Pintu MAKRIFAT = Di antara mata putih dan mata hitam

SIRI DUA PULUH SATU :
1). Martabat SYAREAT = Alam Roh
2). Martabat TAREKAT = Alam Malakut
3). Martabat HAKEKAT = Alam Jabarut
4). Martabat MAKRIFAT = Alam Lahut

SIRI DUA PULUH DUA
1). Tujuan SYAREAT = Agar Hatinya ada Nur
2). Tujuan TAREKAT = Agar Dirinya dan Nyawanya jadi mulia
3). Tujuan HAKEKAT = Agar dapat memisahkan antara Hak dan Batil
4). Tujuan MAKRIFAT = Agar dapat derajat Saddikin

SIRI DUA PULUH TIGA
1). SYAREAT = Ibarat buih
2). TAREKAT = Ibarat ombak
3). HAKEKAT = Ibarat laut
4). MAKRIFAT = Ibarat air

BATOK BOLU dalam pandangan Mistis Jawa

 Jika ada yang mentakan Pitutur atau mungkin lebih dekat dengan falsafah hidup orang Jawa lebih sering hanya berupa papan tanpa tulis. Ada benarnya juga. Bukan hanya itu, bahkan dalam konteks Mistik Kejawen pun kita akan lebih sering menemui banyak simbol-simbol sesuatu namun tanpa tulisan, yaitu berupa bahasa sandi atau kadang lebih dekat dengan teka-teki. Meskipun tanpa tulisan, namun sebenarnya pitutur  dalam bentuk semua atau bahasa sandi tesebut kalau kita renungkan mempunyai nilai budi pekerti luhur….

Ada beberapa intilah yang sudah saya tulis pada blog ini. Kali ini saya  ambilkan contoh istilah Bathok  Bolu  Isi  Madu,  jika kita cermati lebih jauh, asal-usul istilah ini berasal dari kata Bathok  artinya tempurung kelapa. Bolu artinya bolongan telu (3) yang bisa diartikan lahir, hidup, mati. Isi Madu melambangkan keagungan. Istilah ini memang berasal dari bathok kelapa yang melukiskan hidup manusia secara mistis. Yakni:

  1. Cikal (calon)atau tunas, yaitu bakal pohon kelapa yang masih kecil. Yakni umur manusia ketika masih kanak-kanak  belum sempurna,
  2. Glugu, artinya manusia kecil biasanya bertindak masih lugu dan tidak pernah bohong, polos pemikirannya. Maksudnya manusia harus bertindak jujur, lurus seperti glugu (pohon kelapa).
  3. Tataran, yaitu tangga yang di buat pada batang kelapa untuk memudahkan seseorang memanjatnya. Maksudnya, hidup manusia itu hendaknya di awali dari tahap demi tahap. Dalam meraih segala ngelmu, diperlukan laku dan proses.
  4. Tapas,yaitu pembungkus calon buah kelapa. Maksudnya, manusia harus mau di tata yang pas dan selaras.
  5. Mancung, yaitu kuncup bunga kelapa maksudnya manusia hendaknya selalu mengacungkan diri dalam hal kebaikan, harus menggantungkan cita-cita setinggi langit.
  6. Manggar, yaitu bunga kelapa, maksudnya hidup seharusnya di anggar-anggar  atau di pertimbangkan masak-masak.
  7. Bluluk, buah kelapa kecil maksudnya hidup seharusnya balbul (mengepul-kepul) dengan keluk (asap), hidup harus senang membakar kemenyan sebagai sarana bertemu dengan Tuhan.
  8. Cengkir, buah kelapa muda. Maksudnya hidup harus kuat pemikirannya (kenceng ing pikir)
  9. Degan, kelapa muda. Maksudnya hidup harus bisa mendapatkan gegantilaning ati (buah hati), yaitu Tuhan.
  10. Sepet, pembungkus kelapa. Maksudnya manusia hidup hidup harus berani menghadapi sepete kehidupan (pahitnya kehidupan).
  11. Janur, daun kelapa muda berwarna kuning. Maksudnya, hidup harus selalu mencari cahaya kuning, yaitu nur ilahi.

Demikian dulu ngaji kita kali ini, semoga menambah wawasan bagi kita semua.
Maturnuwun…

Selasa, 02 Agustus 2016

MERAWAT PUSAKA KERIS,TOMBAK,TOSAN AJI

 keris telah diakui oleh UNESCO sebagai Adikarya Peninggalan Sejarah. Bangsa Melayu, dari Patani-Thailand sampai ke Sulawesi-Indonesia, sebagai pewaris adikarya kebudayaan tersebut, seharusnya berbangga atas pengakuan dunia internasional terhadap karya nenek moyangnya tersebut. Namun kebanggaan tersebut tentunya harus disertai usaha-usaha konservasi atas budaya dan bukti-bukti sejarahnya.Usaha konservasi atas budaya & bukti-bukti sejarahnya antara lain dapat dilakukan dengan mempelajari serta mengaplikasikan pengetahuan yang benar dan logis dalam merawat keris. Tidak hanya melaksanakan kebiasaan turun temurun yang kadang terkait dengan mitos-mitos dan ritus-ritus yang tidak logis dan malah dapat merusak fisik keris itu sendiri.
Memandikan dan mewarangi keris tidak dimaksudkan untuk menyembah atau mengagungkannya namun lebih kepada perawatan atas fisik benda bernilai sejarah tersebut dan melestarikan budaya atau cara tradisional dalam proses perawatan itu sendiri. Jadi suatu benda kuno menjadi pusaka bukan karena kekuatan supranaturalnya saja. Namun karena benda tersebut adalah peninggalan nenek moyang yang menjadi bukti sejarah, pencapaian dan kejayaan budaya bangsa kita di masa lalu. Sehingga menjadi suatu kebanggaan bangsa di masa kini. Bukti tersebut patut dan wajib dilestarikan agar kita tidak kehilangan akar sejarah dan budaya sebagai suatu bangsa. Itulah yang dimaksudkan sebagai makna pusaka dalam konteks intelektual. Dalam budaya Jawa dikenal beberapa cara atau rangkaian upacara dalam rangka mencuci dan mewarangi pusaka. Ada yang sederhana, ada pula yang penuh dengan rangkaian ritus yang diperlengkap dengan puluhan macam sesajen seperti yang dilaksanakan oleh pihak kraton Solo dan Jogja setiap bulan Suro (Muharram).
Yang akan diuraikan di bawah ini adalah cara mencuci dan mewarangi keris secara tradisional. Namun hanya menekankan pada hal-hal yang bersifat krusial dan fungsional saja. Tidak yang bersifat simbolik atau bernuansa supranatural.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut,
1. Lepaskan keris dari warangka dan ukirannya
Untuk melepaskan pesi dari ukiran, putar ukiran ke arah yang lebih ringan putarannya sambil ditarik / dicabut.
2. Rendam keris dengan air kelapa hijau semalaman lalu bilas dengan air sampai bersih
Saat merendam keris pastikan seluruh bagiannya terendam air kelapa. Air Kelapa Hijau bersifat asam lemah dan bermanfaat untuk melepaskan kotoran, kerak, dan mempermudah lepasnya karat yang terbentuk dipermukaan keris. Karena sifat asamnya yang lemah diperlukan perendaman semalaman agar betul2 meresap dan dapat melepaskan kotoran terutama yang terdapat di pori2 logam. Sifat itu pula yang membuatnya relatif aman untuk keris.
3. Gosok permukaan keris dengan irisan jeruk nipis sampai bersih / putih mengkilap
Menggosoknya jangan terlalu keras / kasar. Dapat pula digosok menggunakan sikat gigi yang halus dengan arah gosokan searah bila ada kerak / karat yang membandel. Boleh juga ditambah air perasan buah pace / mengkudu yang sudah matang. Lalu bilas dengan air bersih yang mengalir.
Jeruk Nipis sifat asamnya agak kuat, persentuhan dengan logam keris dalam jangka waktu yang lama dapat merusak logam keris. Digunakan untuk membersihkan keris dari karat, buah jeruk nipis diiris 4-6 bagian dan digosok2 pada permukaan keris. Hasilnya kotoran dan karat akan terlepas dan permukaan keris akan kelihatan putih mengilap. Proses ini disebut Mutihke’.
Air Perasan Buah Pace fungsinya hampir sama seperti air perasan jeruk nipis, namun karena airnya lebih banyak membuat pengerjaan lebih mudah. Teksturnya yang lunak membuatnya mudah hancur bila digosok2kan ke permukaan logam sehingga fungsi jeruk nipis tak tergantikan sepenuhnya.
4. Cuci keris sampai bersih dengan buah lerak / sabun lerak
Saat mencuci, gosok keris perlahan dan searah dengan sikat gigi yang halus. Bila ada kotoran di celah2nya, congkel dengan tusuk gigi. Bilas dengan air bersih sampai kotoran2 (ampas jeruk dan pace) hilang. Bila kotoran2 yang bersifat asam itu sampai tertinggal maka dapat merusak keris karena bersifat korosif.
Buah Lerak berfungsi sebagai sabun alami yang lembut dan tidak merusak besi, tidak seperti detergen yang bersifat keras. Saat ini banyak dijual sabun lerak cair siap pakai sebagai sabun pencuci batik tulis namun bila ingin menggunakannya, pilih yang tidak diberi campuran zat kimia tambahan.
5. Keringkan sampai betul2 kering dengan menekan2 bilah keris dengan kain bersih
Boleh diusap lembut dengan kain bersih yang menyerap air. Dalam proses mengeringkan, keris jangan sampai terkena tangan telanjang lagi. Karena minyak / lemak yang ada ditangan dapat menempel di bilah keris yang sudah bersih dan menimbulkan karat.
6. Olesi keris dengan cairan warangan menggunakan kuas secara tipis dan merata (prosesnya disebut Marangi)
Warangan adalah hasil tambang yang berbentuk kristal dan secara alamiah mengandung arsenikum dalam kadar relatif rendah. Warangan terbaik yang dikenal berasal dari Tiongkok. Pada masa dahulu kala banyak digunakan untuk racun tikus. Arsenikum murni dikenal sebagai zat beracun yang dapat mematikan. Namun beberapa obat2an tertentu ada yang mengandung arsenikum dengan persentase yang rendah. Dengan demikian tidak hanya sebagai racun, arsenikum juga memiliki manfaat sebagai obat dalam kadar dan pada persenyawaan dengan zat, tertentu. Fungsi cairan warangan adalah untuk menciptakan reaksi kimia antara besi dan larutan warangan pada permukaan bilah. Reaksi tersebut menghasilkan senyawa oksida besi – arsenik berupa lapisan tipis yang berfungsi sebagai anti karat pada permukaan bilah keris. Selain sebagai anti karat, lapisan tersebut juga menimbulkan warna kontras yang indah pada permukaan bilah. Hal ini disebabkan reaksi kimia hanya terjadi pada bagian bilah yang mengandung besi. Gelap terangnya permukaan suatu logam akibat reaksi tersebut tergantung dari tingginya kandungan besi dalam logam tersebut. Seperti diketahui keris, tombak, dan pedang yang berkualitas baik biasanya dibuat dari minimum 3 jenis lempengan besi-baja ditambah 1 lempengan nikel atau meteorit (berkadar besi sangat rendah atau bahkan tidak mengandung besi) yang ditempa berlapis lipat berulang kali menjadi satu kesatuan (nglereh). Akibatnya lipatan2 besi yang berbeda komposisi kimianya memunculkan kontras yang berbeda setelah pewarangan. Sedangkan garis2 lipatan nikel / meteorit yang tidak bereaksi terhadap warangan menimbulkan garis2 putih yang kadang mengkilap seperti krom. Kesemuanya itu membentuk gambaran / pola pada permukaan keris yang dikenal sebagai Pamor.
Marangi keris tidak dimaksudkan untuk meracuni bilah keris tersebut sehingga akan mematikan bila tergores olehnya. Persentase arsenikum dalam kristal warangan relatif rendah, apalagi dalam aplikasinya kristal warangan dilarutkan dahulu dalam air perasan jeruk nipis yang banyak sekali (+/- 1gr serbuk warangan dalam 250ml air perasan jeruk nipis). Dengan demikian kadar arsenikum yang akan menempel di bilah keris rendah sekali kadarnya. Walaupun demikian kehati-hatian dalam menangani sebilah keris tetaplah diperlukan.
Pada jaman dahulu memang dikenal cara-cara untuk memasukkan racun dalam keris. Utamanya bila keris tersebut memang dirancang dan dibuat untuk digunakan dalam peperangan. Hal ini dimungkinkan karena permukaan logam keris berpori sehingga mampu menyerap racun. Biasanya proses memasukkan racun ke dalam keris hanya dilakukan pada saat keris masih dalam proses pembuatan. Yaitu pada tahap paling akhir yang disebut penyepuhan atau dalam istilah metalurgi dikenal dengan quenching. Proses penyepuhan dilakukan dengan memanaskan ulang keris, yang sudah jadi bentuk fisiknya, sampai membara (namun tidak sampai berpijar) lalu dicelupkan dalam bumbung bambu berisi minyak kelapa.
Pada tahap ini keris secara bentuk sebenarnya sudah sempurna hanya perlu ditingkatkan kekerasannya agar bisa diasah setajam-tajamnya dan tidak mudah tumpul. Dengan pendinginan kejut, unsur karbon pada permukaan besi akan terjebak dalam struktur sementit yang meningkatkan kekerasan besi tersebut. Proses ini harus dilakukan oleh Empu yang ahli karena beresiko tinggi terhadap keris itu sendiri. Pencelupan yang terlalu lambat membuat besi tidak mencapai kekerasan maksimal. Terlalu cepat, keris bisa ngulet / muntir atau malah pecah (pamengkang jagad). Suhu pemanasan kurang, keris tidak menjadi keras. Terlalu panas, keris jadi lunak karena terjadinya decarburizing / unsur karbon keluar dari besi. Bila proses terakhir ini gagal, maka keris indah yang sudah jadi itu pun pasti dibuang.
Memasukkan racun dalam keris saat penyepuhan (nyepuh wisa) dilakukan dengan mencampur minyak kelapa yang digunakan sebagai media pencelupan dengan ramuan racun yang mengandung bisa ular atau serangga beracun. Namun menggunakan senjata beracun, baik jaman dahulu maupun sekarang, dianggap sebagai tindakan yang tidak ksatria dan pengecut. Dalam mempersiapkan cairan warangan, pilihlah serbuk / gumpalan kristal warangan alami yang berwarna ungu tua kemerahan. Tumbuk sampai halus sekali lalu larutkan dalam air perasan jeruk nipis murni yang sudah disaring bersih. Larutan tersebut sebaiknya disimpan dahulu / dituakan selama 6 bulan sebelum dipakai. Ciri-ciri larutan yang sudah jadi adalah warnanya menjadi kecoklatan / kehitaman. Tidak dianjurkan menggunakan arsenikum kimiawi dari apotik / toko kimia karena kadarnya terlalu tinggi / murni sehingga terlalu keras efeknya. Bilah keris akan mudah kebrangas (terlalu hitam / gosong) pada saat diwarangi sehingga jelek dilihat. Selain itu bila penanganan zat beracun tersebut tidak hati-hati dapat menimbulkan bahaya.
Marangi sebaiknya dilakukan di atas sebuah wadah untuk menampung tetesan cairan warangan. Masukkan kembali tetesan tersebut ke dalam botol penyimpan cairan warangan, jangan sembarangan dibuang. Cucilah wadah penampung dengan air yang mengalir.
7. Angin-anginkan keris dengan posisi berdiri (gunakan rak) agar pembentukan lapisan senyawa oksida besi-arsenik bisa sempurna
Pada proses mengangin-anginkan, keris jangan terkena sinar matahari langsung (bisa kebrangas / gosong), namun pilih saat matahari cerah / tidak mendung. Waktunya kira2 jam 9-11 pagi atau jam 2-4 sore.
Perhatikan kontras warna yang terbentuk pada permukaan bilah keris. Bila tingkat kontras yang diinginkan sudah tercapai, lanjutkan ke proses selanjutnya.
8. Setelah pengangin-anginan dianggap cukup, bilas lagi keris dengan air mengalir
Namun dalam membilas, jangan disemprot dengan tekanan air yang tinggi atau digosok-gosok / disentuh tangan telanjang. Pembilasan dimaksudkan untuk menghentikan reaksi kimia antara besi dan warangan sehingga keris tidak terlalu hitam / gosong.
9. Keringkan lagi sampai betul-betul kering dengan menekan-nekan bilah (jangan digosok) dengan kain bersih secara lembut lalu diangin-anginkan, Ingat, jangan sampai disentuh dengan tangan telanjang lagi.
10. Olesi keris dengan minyak (minyak’i) secara tipis dan merata menggunakan kuas
Dalam meminyaki, jangan sampai keris terlalu basah. Serap kelebihan minyak dengan kain bersih yang ditekan-tekan di permukaan keris (jangan digosok-gosok). Setelah itu keris diangin-anginkan semalaman dengan posisi berdiri (gunakan rak) agar bila ada kelebihan minyak dapat menetes / mengalir turun.
Minyak yang digunakan dalam meminyaki keris tidak dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang menghuni keris tersebut. Melainkan sebagai pelindung tambahan, diluar lapisan warangan, yang mengisolasi bilah pusaka dari kontak dengan udara. Seperti yang diketahui karat atau korosi muncul akibat reaksi logam, oksigen, dan air. Udara yang lembab di daerah tropis seperti di Indonesia (kelembaban 70-90%), mengandung uap air yang tinggi kadarnya sehingga meningkatkan resiko korosi. Namun bila logam diisolasi agar tak bersentuhan langsung dengan udara dengan cara dilapisi minyak, maka resiko korosi dapat dicegah.
Minyak terbaik untuk meminyaki pusaka adalah minyak senjata (minyak untuk melumasi komponen2 mekanis senjata api). Namun bila sulit memperolehnya dapat digantikan dengan minyak Singer (pelumas untuk mesin jahit). Untuk memperbaiki aroma minyak senjata atau minyak Singer, agar pusaka baunya wangi, dapat ditambahkan sedikit (10%) minyak alami yang terbuat dari bunga, kayu, atau akar tumbuhan yang wangi (seperti minyak melati, mawar, cendana, gaharu, akar wangi) diaduk rata sebelum dipakai.
Jangan pernah menggunakan minyak yang bersifat kental dan lengket seperti minyak misik (minyak kemenyan) atau minyak wangi Arab lain yang bersifat seperti itu. Minyak seperti itu akan menimbulkan kerak yang lengket dan mengeras pada permukaan bilah dan bagian dalam warangka. Kerak tersebut sangat sulit dibersihkan dan bisa membuat keris sulit dicabut dari warngkanya. Pada akhirnya kerak tersebut akan menimbulkan kerusakan pada bilah keris.
11. Masukkan kembali pusaka ke warangkanya. Simpanlah di tempat yang kering dan tidak lembab
Dalam hal memasang ukiran atau gagang keris, biasanya lubang pada ukiran lebih besar dari pesi keris. Hal ini dimaksudkan supaya pesi tidak rusak karena dipaksakan masuk. Agar genggamannya pas dan keris tidak mudah lepas dari gagangnya, pesi dililit dengan benang, carik kain seperti pita, atau boleh menggunakan potongan koran selebar panjang pesi kurang sedikit, sebelum dimasukkan ke lubang ukiran.
Cara memasukkannya adalah dengan diputar berlawanan arah lilitan sambil ditekan masuk. Saat menekan pesi untuk masuk harus terasa seret. Bila tidak artinya lilitannya kurang dan keris akan mudah lepas dari ukiran. Setelah pesi masuk sempurna, sambil tetap ditekan, balik arah putaran sambil mengepaskan posisi bilah terhadap ukiran. Dengan demikian lilitan, yang tadi diameternya mengerut karena putaran, kembali mengembang dan mengunci pesi dalam lubang ukiran.
Tidak dianjurkan memegang2 bilah pusaka dengan tangan telanjang. Hal ini bukan karena dikhawatirkan racun arsenik akan menempel pada tangan sehingga menyebabkan keracunan namun justru karena membahayakan kelestarian keindahan bilah pusaka tersebut. Pada permukaan telapak tangan selalu terdapat minyak / lemak yang berasal dari keringat atau barang / makanan yang dipegang sebelumnya. Bila kita memegang bilah pusaka dengan tangan telanjang, minyak / lemak pada tangan kita akan menempel pada permukaan bilah (sidik jari). Hal itu akan mempermudah atau memicu munculnya karat. Selain itu dikhawatirkan lapisan senyawa oksida besi-arsenik dan lapisan minyak, yang tipis sekali, dipermukaan bilah akan terhapus bila sering dipegang2 sehingga perlindungan terhadap karat hilang.
Jangan terbiasa meletakkan bunga segar di dekat bilah pusaka (sesaji atau caos dahar). Uap air yang keluar dari bunga dalam proses mengering meningkatkan kelembaban udara, bersifat tajam dan dapat menimbulkan karat yang merusak bilah pusaka.
Kebiasaan mengasapi keris dengan asap bakaran kemenyan (nguthuki menyan) juga seharusnya tidak perlu dilakukan. Asap kemenyan dapat terakumulasi di permukaan keris dan membentuk kerak yang sulit dibersihkan.
Sesungguhnya mencuci dan mewarangi keris tidak harus selalu dilakukan setiap tahun atau dalam jangka waktu tertentu. Karena proses tersebut sedikit banyak akan mengikis permukaannya sehingga dapat merusak keris dalam kurun waktu tertentu bila dilakukan terlalu sering.
Mencuci atau memandikan keris seyogianya dilakukan bila bilah keris terindikasi mulai berkarat atau tebal keraknya. Namun bila pemilik keris memiliki pengetahuan yang baik dalam hal perawatan keris seharusnya mampu memperpanjang interval pencucian keris tersebut.
Bila keris belum berkarat, sebaiknya yang perlu dilakukan dalam 6 bulan atau 1 tahun sekali hanyalah meminyakinya. Sehingga interval waktu pencucian dapat diperpanjang hingga 3 tahun sekali.
Perlu diketahui mewarangi keris hanya perlu dilakukan bila keris dicuci. Bila keris tidak dicuci tapi diwarangi maka tidak ada gunanya. Karena cairan warangan akan terhalang lapisan minyak sehingga tidak bisa bereaksi dengan besi / permukaan keris.
Dengan pengetahuan akan cara – cara perawatan yang tepat, diharapkan keris – keris kuno yang banyak tersebar di tengah – tengah masyarakat dapat terpelihara kelestarian dan keindahannya. Sehingga dalam jangka ratusan tahun ke depan, generasi penerus bangsa ini masih dapat menyaksikan bukti sejarah pencapaian budaya nenek moyangnya.
Catatan :
Butuh Latihan dan Keahlian Khusus Untuk Mencuci dan Warangi Keris, Bila ragu daripada Keris anda rusak lebih baik serahkan pada ahlinya, saat ini sudah banyak jasa Khusus Cuci dan Warangi Keris Pusaka

Senin, 23 Mei 2016

MAKNA FILOSOPI PUSAKA KERIS PULANGENI

Makna Desain Keris

Pulang Geni




Pulang Geni merupakan salah satu dapur keris yang populer dan banyak dikenal karena memiliki padan nama dengan pusaka Arjuna. Pulang Geni bermakna ratus atau dupa atau juga Kemenyan. Bahwa manusia hidup harus berusaha memiliki nama harum dengan berperilaku yang baik, suka tolong menolong dan mengisi hidupnya dengan hal-hal atau aktivitas yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Manusia harus berkelakuan baik dan selalu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, tentu namanya akan selalu dikenang walau orang tersebut sudah meninggal. Oleh karena itu, keris dapur Pulang Geni umumnya banyak dimiliki oleh para pahlawan atau pejuang.

Kidang Soka



Kidang Soka memiliki makna "kijang yang berduka". Bahwa hidup manusia akan selalu ada duka, tetapi manusia diingatkan agar tidak terlalu larut dalam duka yang dialaminya. Kehidupan masih terus berjalan dan harus terus dilalui dengan semangat hidup yang tinggi. Keris ini memang memiliki ciri garap sebagaimana keris tangguh Majapahit, tetapi dilihat pada penerapan pamor serta besinya, tidak masuk dikategorikan sebagai keris yang dibuat pada zaman Majapahit. Oleh karena itu, dalam pengistilahan perkerisan dikatakan sebagai keris Putran atau Yasan yang diperkirakan dibuat pada zaman Mataram. Kembang Kacang Pogog semacam ini umumnya disebut Ngirung Buto.

Sabuk Inten



Sabuk Inten merupakan salah satu dapur keris yang melambangkan kemakmuran dan atau kemewahan. Dari aspek filosofi, dapur Sabuk Inten melambangkan kemegahan dan kemewahan yang dimiliki oleh para pemilik modal, pengusaha, atau pedagang pada zaman dahulu. Keris Sabuk Inten ini menjadi terkenal, selain karena legendanya, juga karena adanya cerita silat yang sangat populer berjudul Naga Sasra Sabuk Inten karangan Sabuk Inten karangan S.H. Mintardja pada 1970-an.

Naga Sasra



Naga Sasra adalah salah satu nama dapur "Keris Luk 13" dengan gandik berbentuk kepala naga yang badannya menjulur mengikuti sampai ke hampir pucuk bilah. Salah satu dapur keris yang paling terkenal walau jarang sekali dijumpai adanya keris Naga Sasra Tangguh tua. Umumnya keris dapur Naga Sasra dihiasi dengan kinatah emas sehingga penampilannya terkesan indah dan lebih berwibawa. Keris ini memiliki gaya seperti umumnya keris Mataram Senopaten yang bentuk bilahnya ramping seperti keris Majapahit, tetapi besi dan penerapan pamor serta gaya pada wadidhang-nya menunjukkan ciri Mataram Senopaten.

Sepertinya keris ini berasal dari era Majapahit akhir atau bisa juga awal era Mataram Senopaten (akhir abad ke-15 sampai awal abad ke-16). Keris ini dulunya memiliki kinatah Kamarogan yang karena perjalanan waktu, akhirnya kinatah emas tersebut hilang terkelupas. Tetapi secara keseluruhan, terutama bilah keris ini masih bisa dikatakan utuh. Keris dapur Naga Sasra berarti "ular yang jumlahnya seribu (beribu-ribu)" dan juga dikenal sebagai keris dapur "Sisik Sewu". Dalam budaya Jawa, naga diibaratkan sebagai penjaga. Oleh karena itu, banyak kita temui pada pintu sebuah candi atau hiasan lainnya yang dibuat pada zaman dahulu. Selain penjaga, naga juga diibaratkan memiliki wibawa yang tinggi. Oleh karena itu, keris Naga Sasra memiliki nilai yang lebih tinggi daripada keris lainnya.

Sengkelat

Sengkelat adalah salah satu keris dari jaman Mataram Sultan Agung (awal abad ke-17). Pamor keris sangat rapat, padat, dan halus. Ukuran lebar bilah lebih lebar dari keris Majapahit, tetapi lebih ramping daripada keris Mataram era Sultan Agung pada umumnya. Panjang bilah 38 cm, yang berarti lebih panjang dari Keris Sengkelat Tangguh Mataram Sultan Agung umumnya. Bentuk luknya lebih rengkol dan dalam dari pada keris era Sultan Agung pada umumnya. Ganja yang digunakan adalah Gonjo Wulung (tanpa pamor) dengan bentuk Sirah Cecak runcing dan panjang dengan buntut urang yang nguceng mati, Kembang Kacang Nggelung Wayang. Jalennya pendek dengan Lambe Gajah yang lebih panjang dari Jalen. Sogokan tidak terlalu dalam dengan janur yang tipis tetapi tegas sampai ke pangkal bilah. Warangka keris ini menggunakan gaya Surakarta yang terbuat dari kayu cendana.

Raga Pasung atau Rangga Pasung

Raga Pasung, atau Rangga Pasung, memiliki makna sesuatu yang dijadikan sebagai upeti. Dalam hidup di dunia, sesungguhnya hidup dan diri manusia ini telah diupetikan kepada Tuhan YME. Dalam arti bahwa hidup manusia ini sesungguhnya telah diperuntukkan untuk beribadah, menyembah kepada Tuhan YME. Dan karena itu kita manusia harus ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini sesungguhnya semu dan kesemuanya adalah milik Tuhan YME.

Bethok BrojolBethok Brojol adalah keris dari tangguh tua juga. Keris semacam ini umumnya ditemui pada tangguh tua seperti Kediri/Singasari atau Majapahit. Dikatakan Bethok Brojol karena bentuknya yang pendek dan sederhana tanpa ricikan kecuali Pijetan sepeti keris dapur Brojol.

Puthut Kembar

Puthut Kembar oleh banyak kalangan awam disebut sebagai Keris Umphyang. Padahal sesungguhnya Umphyang adalah nama seorang empu, bukan nama dapur keris. Juga ada keris dapur Puthut Kembar yang pada bilahnya terdapat rajah dalam aksara Jawa kuno yang tertulis “Umpyang Jimbe”. Ini juga merupakan keris buatan baru, mengingat tidak ada sama sekali dalam sejarah perkerisan di mana sang empu menuliskan namanya pada bilah keris sebagai label atau trade mark dirinya. Ini merupakan kekeliruan yang bisa merusak pemahaman terhadap budaya perkerisan.

Puthut dalam terminologi Jawa bermakna cantrik, atau orang yang membantu atau menjadi murid dari seorang pandita/empu pada zaman dahulu. Bentuk Puthut ini konon berasal dari legenda tentang cantrik atau santri yang diminta untuk menjaga sebilah pusaka oleh sang Pandita, juga diminta untuk terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bentuk orang menggunakan gelungan di atas kepala, menunjukkan adat menyanggul rambut pada zaman dahulu. Bentuk wajahnya, walau samar, masih terlihat jelas guratannya. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa dapur Puthut mulanya dibuat oleh Empu Umpyang yang hidup pada era Pajang awal. Tetapi ini pun masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah karena tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah.

Pajang 

Ada keris yang bernama Pajang-Majapahit, yang berarti keris buatan Pajang yang dibuat pada era Majapahit akhir. Penamaan keris ini perlu diteliti kembali mengingat perbedaaan zaman antara Kerajaan Majapahit (abad ke-14-15) dengan zaman Kerajaan Pajang (abad ke-17), meski dalam Nagarakretagama yang ditulis pada zaman Majapahit disebutkan adanya wilayah Pajang pada zaman tersebut.

Keris Lurus Semelang



Keris Lurus Semelang dalam bahasa Jawa bermakna "kekhawatiran atau kecemasan terhadap sesuatu". Sedangkan Gandring memiliki arti "setia atau kesetiaan" yang juga bermakna "pengabdian". Dengan demikian, Sumelang Gandring memiliki makna sebagai bentuk dari sebuah kecemasan atas ketidaksetiaan akibat adanya perubahan. Ricikan keris ini antara lain: gandik polos, sogokan satu di bagian depan dan umumnya dangkal dan sempit, serta sraweyan dan tingil. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa keris dapur Sumelang Gandring termasuk keris dapur yang langka atau jarang ditemui walau banyak dikenal di masyarakat perkerisan. (Ensiklopedia Keris: 445-446).

Sumelang GandringPusaka ini hilang dari Gedhong Pusaka Keraton. Lalu Raja menugaskan Empu Supo Mandangi untuk mencari kembali pusaka yang hilang tersebut. Dari sinilah berawal tutur mengenai nama Empu Pitrang yang tidak lain juga adalah Empu Supo Mandrangi (Ensiklopedia Keris: 343-345).

Tilam Upih



Tilam Upih dalam terminologi Jawa bermakna tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk tidur, diistilahkan untuk menunjukkan ketenteraman keluarga atau rumah tangga. Oleh karena itu, banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara turun-temurun dalam dapur Tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan dari para sesepuh keluarga agar anak-cucunya nanti bisa memeroleh ketenteraman dan kesejahteraan dalam hidup berumah tangga.

Sedangkan Pamor ini dinamakan Udan Mas Tiban. Ini karena terlihat dari penerapan pamor yang seperti tidak direncanakan sebelumnya oleh si empu. Berbeda dengan kebanyakan Udan Mas Rekan yang bulatannya sangat rapi dan teratur, Udan Mas Tiban ini bulatannya kurang begitu teratur tetapi masih tersusun dalam pola 2-1-2. Pada 1930-an, yang dimaksud dengan pamor Udan Mas adalah Pamor Udan Mas Tiban yang pembuatannya tidak direncanakan oleh sang empu (bukan pamor rekan). Ini dikarenakan pamor Udan Mas yang rekan dicurigai sebagai pamor buatan (rekan). Tetapi toh juga banyak keris pamor udan mas rekan yang juga merupakan pembawaan dari zaman dahulu.

Oleh banyak kalangan, keris dengan Pamor Udan Mas dianggap memiliki tuah untuk memudahkan pemiliknya mendapatkan rezeki. Dengan rezeki yang cukup,diharapkan seseorang bisa membina rumah tangga dan keluarga lebih baik dan sejahtera. Lar Gang Sir konon merupakan kepanjangan dari Gelar Ageman Siro yang memiliki makna bahwa gelar atau jabatan dan pangkat di dunia ini hanyalah sebuah ageman atau pakaian yang suatu saat tentu akan ditanggalkan. Karena itu jika kita memiliki jabatan/pangkat atau kekayaan, maka janganlah kita sombong dan takabur (ojo dumeh). Jangan mentang-mentang memiliki kekuasaan, pangkat dan jabatan atau kekayaan, maka kita bisa seenaknya sendiri sesuai keinginan kita tanpa memikirkan kepentingan orang lain

Sabtu, 21 Mei 2016

SYI'IR TANPO WATON ( GUSDURIAN )

TEKS SYI’IR TANPO WATON YANG DILANTUNKAN OLEH GUS DUR YANG PENUH DENGAN NASEHAT, HIKMAH DAN MAKNA YANG SANGAT DALAM



Teks Dalam Bahasa Jawa : 



Astagfirullah robbal baroya…
Astagfirulloh minal khootooya…
Robbi zidni `ilmannaafii’a…
Wawaffikni `amalan sholiha…


Yaa rosulallah salammun’alaik…
Yaa rofi’asaaniwaddaaroji…
`atfatayaji rotall `aalami…
Yauhailaljuu diwaalkaromi…


Ngawiti ingsun nglarasa syi’iran
Kelawan muji maring pingeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo petungan 2X


Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syare’at bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sangsoro 2X


Akeh kang apal Qur’an haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale 2X


Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nistho 2X


Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhite
Baguse sangu mulyo matine 2X


Kang aran soleh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate
Ugo hakekot manjing rasane 2 X


Alquran qodim wahyu minulyo
Tanpo dinulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing jero dodo 2X


Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjing iman 2 X


Kelawan Alloh kang moho suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadhohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X


Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas pasan
Kabeh tinakdir saking pengeran 2X


Kelawan konco dulur lan tonggo
Kang podho rukun podho trapsilo
Iku sunnahe, Rasul kang mulyo
Nabi Muhammad, Panutan Kito 2X


Ayo nglakoni sakabehane
Allah kang bakal ngangkat drajate
Senajan ashor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate 2X


Lamun palarasto ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Allah swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese 2X


Yarosulalloh salammun’alaik…
Yaarofi’asaaniwaddaaroji…
`atfatayaji rotall `aalami…
Yauhailaljuu diwaalkaromi…



Teks Dalam Bahasa Indonesia :

Astagfirullah robbal baroya…
Astagfirulloh minal khootooya…
Robbi zidni `ilmannaafii’a…
Wawaffikni `amalansholiha…

Yarosulalloh salammun’alaik…
Yaarofi’asaaniwaddaaroji…
`atfatayaji rotall `aalami…
Yauhailaljuu diwaalkaromi…


 aku memulai menembangkan syi’ir
dengan memuji kepada Tuhan
yang memberi rohmat dan kenikmatan
Siang dan malamnya tanpa terhitung 2x

wahai para teman pria dan wanita
jangan hanya belajar syari’at saja
hanya pandai bicara, menulis dan membaca
esok hari bakal sengsara 2x

banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya
senang mengkafirkan kepada orang lain
kafirnya sendiri tak dihiraukan
jika masih kotor hati dan akalnya 2x

gampang terbujuk nafsu angkara
dalam hiasan gemerlapnya dunia
iri dan dengki kekayaan tetangga
maka hatinya gelap dan nista 2x

ayo saudara jangan melupakan
wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya
untuk mempertebal iman tauhidnya
bagusnya bekal mulia matinya 2x

Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya
karena mapan sari ilmunya
menjalankan tarekat dan ma’rifatnya
juga hakikat meresap rasanya 2x

Al Qur’an qodim wahyu yang mulia
tanpa ditulis bisa dibaca
itulah nasihat guru mumpuni
Ditancapkan di dalam dada 2x

menempel di hati dan pikiran
merasuk dalam badan dan seluruh hati
mukjizat Rosul(Al-Qur’an) jadi pedoman
sebagai sarana jalan masuknya iman 2x

Kepada Allah Yang Maha Suci
harus mendekatkan diri siang dan malam
diusahakan dengan sungguh - sungguh secara ikhlas
dzikir dan suluk jangan sampai lupa 2x

hidupnya tentram merasa aman
mantabnya rasa tandanya iman
sabar menerima meski hidupnya pas-pasan
semua adalah takdir dari Tuhan 2x

terhadap teman, saudara dan tetangga
yang rukun jangan bertengkar
itu sunnahnya Rosul yang mulia
Nabi Muhammad tauladan kita 2x

ayo jalani semuanya
Allah yang akan mengangkat derajatnya
Walaupun rendah tampilan dhohirnya
namun mulia maqam derajatnya disisi Allah

 ketika ajal telah datang di akhir hayatnya
tidak tersesat ruh dan sukmanya
dirindukan Allah surga tempatnya
utuh jasadnya juga kain kafannya 2x

Yarosulalloh salammun’alaik…
Yaarofi’asaaniwaddaaroji…
`atfatayaji rotall `aalami…
Yauhailaljuu diwaalkaromi…

 Teks Dalam Bahasa Sunda :

Astagfirullah robbal baroya…
Astagfirulloh minal khootooya…
Robbi zidni `ilmannaafii’a…
Wawaffikni `amalansholiha…

Yarosulalloh salammun’alaik…
Yaarofi’asaaniwaddaaroji…
`atfatayaji rotall `aalami…
Yauhailaljuu diwaalkaromi…


kuring mitembeyan menembangkan syi’ir
kalayan muji ka Pangéran
anu méré rohmat sarta keni’matan
Beurang sarta peutingna tanpa terhitung 2x

wahai para réncang lalaki sarta wanoja
ulah ngan diajar syari’at waé
ngan pandai ngomong, nulis sarta maca
esok poé bakal tunggara 2x

loba anu hapal Qur’an sarta Haditsnya
gumbira mengkafirkan ka batur
kafirnya sorangan teu dihiraukan
lamun masih kotor haté sarta uteukna 2x

gampang terbujuk napsu angkara
dina hiasan gemerlapnya dunya
iri sarta dengki kakayaan tatangga
mangka haténa gelap sarta nista 2x

hayu baraya ulah mopohokeun
wajibna mengkaji pepek kalayan aturanana
pikeun ngandelan iman tauhidna
alusna bekel mulia matinya 2x

Anu disebut sholeh nyaéta alus haténa
alatan mapan sari élmuna
ngajalankeun tarekat sarta ma’rifatnya
ogé hakikat meresap rasana 2x

Al Qur’an qodim wahyu anu mulia
tanpa ditulis bisa dibaca
éta pisan nasihat guru mumpuni
Ditancapkan di jero harigu 2x

adek di haté sarta pikiran
merasuk dina awak sarta sakumna haté
mukjizat Rosul(Al-qur’an) jadi padoman
minangka sarana jalan asupna iman 2x

Ka Alloh Anu Maha Suci
kudu ngaraketkeun diri beurang sarta peuting
ditarékahan kalayan éstuning - éstuning sacara ikhlas
dzikir sarta suluk ulah nepi ka poho 2x

hirupna tentram ngarasa aman
mantabnya rasa tandana iman
sabar narima cacak hirupna pas-pasan
kabéh nyaéta takdir ti Pangéran 2x

ka réncang, baraya sarta tatangga
anu rukun ulah paraséa
éta sunnahnya Rosul anu mulia
Nabi Muhammad tauladan urang 2x

hayu jalanan kabéhanana
Alloh anu baris mengangkat derajatnya
Sanajan pendék tampilan dhohirnya
tapi mulia maqam derajatnya disisi Alloh 

sabot ajal geus datang di ahir hayatnya
henteu kasasar ruh sarta sukmanya
dipikasono Alloh surga tempatna
gembleng jasadnya ogé lawon kafannya 2x

Yarosulalloh salammun’alaik…
Yaarofi’asaaniwaddaaroji…
`atfatayaji rotall `aalami…
Yauhailaljuu diwaalkaromi