Kamis, 07 April 2016

FALSAFAH SEMAR



SEMAR (Sang Hyang Ismaya)
Semar merupakan anak dari Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Wiranti. Memiliki saudara bernama Sang Hyang Manikmaya dan Sang Hyang Antaga. Ketiga bersaudara ini terlahir dalam bentuk satu buah telur. Kulitnya menjadi Antaga (Togog), putihnya menjadi Ismaya (Semar), kuningnya menjadi Manikmaya (Bathara Guru).
Ketika Semar masih mapan di kahyangan, dia bernama Sang Hyang Ismaya. Memiliki istri bernama Dewi Kanastri. Berputra sepuluh orang(dewa) yaitu Bongkokan, Temburu, Kuwera, Mahyati, Siwah, Surya, Candra, Yamadipati, Kamajaya, dan Darmanastiti.
Semar memiliki julukan lain, antara lain: Ki Lurah Badranaya, Nayantaka, Sangonsari, Juru Dyah Puntaprasanta, Janggan Asamarasanta, Bogajati, Ismaya, dan Wong Boga Sampir.
Sebelum jadi Semar, berwujud Sang Hyang Ismaya yang berwajah tampan. Tetapi setelah berwujud Semar, dia berubah menjadi orang pendek, berperut besar, dan dengan mata penuh dengan kotoran mata (lodhok).
Sebelumnya, antara Antaga, Ismaya, dan Manikmaya mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat menelan jagad alam, dia bakal memimpin alam dewa, dan jadi raja di kahyangan. Antaga mencoba, malahan sobek mulutnya. Ismaya bisa menelan tapi dia tidak bisa mengeluarkan. Karena jagad alam ada di dalam perut Semar, maka Manikmaya akhirnya dia tidak mencoba dan dianggap memenangkan sayembara.
Oleh Sang Hyang Wenang, Ismaya diutus untuk turun di Marcapada untuk menjadi pengasuh para satria, termasuk leluhurnya Pandawa, Pandawa itu sendiri, dan anak turunnya. Di Marcapada dia tinggal di Karang Kedhempel dengan nama Semar Badranaya.
Semar memiliki tiga anak angkat yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Putra angkatnya juga ikut menemani Semar dalam mengasuh para satria, oleh karena itu, Semar dan ketiga anak angkatnya sering disebut PUNAKAWAN. Pana atau Puna berarti mengerti, Kawan berarti teman. PUNAKAWAN berarti pengasuhnya para satria. Semar selalu bisa menjadi pelipur lara para bendaranya yang patah hati, negara yang lagi kena pageblug.
Oleh para satria, lebih-lebih oleh Pandawa, Semar dianggap sebagai orang yang pantas dicontoh, bisa mengerti perkara yang belum terjadi. Memiliki tata krama yang bagus, sabar, asih dengan sesama, bijaksana, tidak pernah marah. Akan tetapi jika sudah marah, tidak ada dewa, apalagi manusia yang bisa menandingi kecuali Sang Hyang Wenang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar